MAKALAH FILSAFAT UMUM PENGETAHUAN SAINS (ONTOLOGI SAINS, EPISTIMOLOGI SAINS, DAN AKSIOLOGI SAINS)


MAKALAH FILSAFAT UMUM
PENGETAHUAN SAINS (ONTOLOGI SAINS, EPISTIMOLOGI SAINS, DAN AKSIOLOGI SAINS)

Disusun oleh kelompok 5 :

1.     Cindy Pusfita Desprianti         : 1804041034
2.     Dela                               : 1804040021
3.     Riska                             : 1804041145
4.     Siti Dahria                     : 1804041151


JURUSAN EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI METRO
TH. 2018/2019



KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tentang Filsafat Umum.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pendengar agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang Filsafat Umum yang berjudul Pengetahuan Sains (Ontologi sains, Epistimologi sains, dan Aksiologi sains) ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Metro, 16 September 2018


Penulis            


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ 1
KATA PENGANTAR.............................................................................................. 2
DAFTAR ISI............................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang............................................................................................... 4
B.     Rumusan Masalah.......................................................................................... 4
C.     Tujuan............................................................................................................ 4
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Filsafat......................................................................................... 5
B.     Pengertian Ontologi Sains.............................................................................. 5
C.     Pengertian Epistemologi Sains....................................................................... 8
D.    Pengertian Aksiologi Sains............................................................................ 9
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan.................................................................................................... 11
B.     Saran.............................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 12




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling berkaitan, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat filsafat. Filsafat telah berhasil mengubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Awalnya bangsa Yunani dan bangsa lain didunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini dipengaruhi oleh para dewa. Karenanya para dewa harus dihormati dan sekaligus ditakuti kemudian disembah.
Dengan filsafat, pola pikir yang tergantung pada dewa diubah menjadi pola pikir yang tergantung pada rasio. Seperti kejadian alam, gerhana tidak lagi dianggap sebagai kegiatan dewa yang tertidur tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan, bumi berada pada garis yang sejajar, sehingga bayang-bayang bulan menimpa sebagian permukaan bumi. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan perubahan  yang terjadi, baik di alam jagad raya maupun alam manusia.

B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian filsafat.
2.      Ontologi Sains.
3.      Epistemologi Sains.
4.      Aksiologi Sains.

C.    Tujuan
1.      Memahami apa yang dimaksud dengan Filsafat?
2.      Memahami apa yang dimaksud dengan Ontologi Sains?
3.      Memahami apa yang dimaksud dengan Epistemologi Sains ?
4.      Memahami apa yang dimaksud dengan Aksiologi Sains?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN FILSAFAT
Istilah filsafat merupakan terjemahan dari philosophy(bahasa Inggris) berasal dari bahsa Yunani, philo (love of) dan sophia (wisdom). Secara etimologis, filsafat artinya cinta atau gemar kebijaksaan. Berdasarkan arti secara etimologis ini, ada yang menyatakan bahwa filsafat merupakan suat usaha untuk berfikir secara radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir dengan mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.[1] Harun Nasution berpendapat bahwa istilah filsafat berasal dari bahasa Arab karena orang Arab lebih dulu datang dan sekaligus mempengaruhi bahasa Indonesia daripada orang dan bahasa Inggris. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat menunjukan pengertian yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.[2]
Al-Farabi, seorang filosof muslim terbesar sebelum Ibnu Sina berkata, “Filsafat ialah ilmu tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya. Sedangkan Ibnu Rusyd berpendapat bahwa filsafat merupakan pengetahuan “otonom” yang perlu dikaji oleh manusia karena dia dikaruniai akal.[3]

B.     PENGERTIAN ONTOLOGI SAINS
Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Sedangkan sains adalah pengetahuan yang sitematis yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan, penelaahan dan percobaan yang dilakukan untuk mengetahui prinsip-prinsip alam. Kata ontologi berasal dari perkataan Yunani : On/Ontos = ada dan Logos = ilmu.[4] Ontologi juga merupakan cabang metafisika yang membicarakan eksistensi dan ragam dari suatu kenyataan. Ada beberapa tafsiran tentang kenyataan, diantaranya menurut supernaturalisme dan naturalisme. Menurut supernaturalisme, terdapat wujud-wujud yang bersifat gaib (supernatural) dan wujud ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan wujud alam yang nyata.


Adapun pandangan yang bertolak belakang dengan supernaturalisme paham yang berdasarkan naturalisme, yaitu materialisme, menganggap bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan gaib, tetapi disebabkanoleh kekuatan yang terdapat dalam diri sendiri, yang dapat dipelajari dan dapat diketahui.[5]
Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun 1636 M. Untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisik. Dalam perkembangannya Christian Wolff (1679-1754 M) membagi metafisika menjadi dua, yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan metafisika khusus masih dibagi lagi menjadi kosmologi, psikologi, dan teologi.
Kosmologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang alam semesta. Psikologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan tentang jiwa manusia. Teologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membicarakan Tuhan.
Ontologi merupakan asas dalam menetapkan batas ruang lingkup wujud yang menjadi objek penelaahan serta penafsiran tentang hakikat realitas (metafisika). Menurut Louis O. Kattsoff (1987:192) membagi ontologi dalam 3 bagian : ontologi bersahaja, ontologi kuantitatif serta ontologi monistik. Dikatakan ontologi bersahaja sebab segala sesuatu dipandang dalam keadaan sewajarnya dan apa adanya. Dikatakan ontologi kuantitatif karena dipertanyakan mengenai tunggal atau jamaknya. Sedangkan ontologi monistik adalah jika dikatakan bahwa kenyataan itu tunggal adanya, keanekaragaman, perbedaan dan perubahan dianggap semu belaka.
Di dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut :


1.      Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi maupun berupa rohani. Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua bagian yaitu Materialisme dan Idealisme
2.      Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit.
3.      Pluralisme
Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap macam bentuk itu semuanya nyata. Pluralisme dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas.
4.      Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa latin yang berarti no0thing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang positif.
5.      Agnostisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat ruhani.[6]
Di dalam pemahaman atau pemikiran ontologi dapat ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran, seperti: aliran monoisme, dualisme, pluarisme, nikhilisme, dan agnotisisme.[7]


C.    PENGERTIAN EPISTEMOLOGI SAINS
Epistimologi adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki. “epistemologi’’ sendiri berasal dari bahasa Yunani episteme = pengetahuan dan logos = perkataan, pikiran, ilmu.[8]
Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal-muasal, metode-metode, struktur dan sahnya ilmu pengetahuan. Menurut Conny Semiawan (2005:157) epistemologi adalah cabang filsafat yang menjelaskan tentang masalah-masalah filosofis sekitar teori pengetahuan. Menurut Poedjiadi (2001:13) epistemologis adalah cabang filsafat yang membahas tentang pengetahuan, adapun yang dibahas antara lain adalah asal mula, bentuk atau struktur, dinamika, validitas, dan metodologi, yang bersama-sama membentuk pengetahuan manusia.[9]
Epistemologi adalah suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif, normatif, dan kritis. Evaluatif berarti bersifat menilai, ia menilai apakah suatu keyakinan, sikap, pernyataan pendapat, teori pengetahuan dapat diberikan, dijamin kebenarannya, atau memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara nalar. Normatif berarti menentukan norma atau tolok ukur, dan dalam hal ini tolok ukur kenalaran bagi kebenaran pengetahuan. Sedangkan kritis berarti banyak mempertanyakan dan menhuji kenalaran cara maupun hasil kegiatan manusia mengetahui.[10]
[11] Berdasarkan cara kerja atau metode pendekatan yang diambil terhadap gejala pengetahuan bisa dibedakan beberapa macam epistemologi antara lain, yang pertama epistemologi skeptis dalam epistemologi macam ini, seperti dikerjakan oleh Descartes, kita perlu membuktikan dulu apa yang dapat kita ketahui sebagai sungguh nyata atau benar-benar tak dapat diragukan lagi dengan menganggap sebagai tidak nyata atau keliru segala sesuatu yang kebenarannya masih dapat diragukan.


Macam epistemologi yang kedua adalah epistemologi kritis, epistemologi ini tidak memprioritaskan metafisika atau epistemologi tertentu, melainkan berangkat dari asumsi, prosedur dan kesimpulan pemikiran akal sehat ataupun asumsi, prosedur, dan kesimpulan pemikiran ilmiah sebagaimana kita temukan dalam kehidupan[12]
Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera, dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, diantaranya adalah : metode induktif, metode deduktif, metode positivisme, metode kontemplatif, dan metode dialektis.[13]
D.    PENGERTIAN AKSIOLOGI SAINS
Istilah aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti nilai, dan logos yang berarti ilmu atau teori. Jadi aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan.[14]
Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan, aksiologi disamakan dengan Value and Valuation. Ada tiga bentuk Value and Valuation.
a. Nilai, digunakan sebagai kata benda abstrak. Dalam pengertian yang lebih sempit seperti baik, menarik, dan bagus. Sedangkan dalam pengertian yang lebih luas mencakup sebagai tambahan segala bentuk kewajiban, kebenaran, dan kesucian.
b. Nilai sebagai kata benda konkret. Contohnya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai, ia seringkali dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai, seperti nilainya, nilai dia, dan sistem nilai dia.
c. Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekpresi menilai, memberi nilai, dan dinilai.[15]
Dilihat dari jenisnya, paling tidak terdapat dua bagian umum dari aksiologi dalam membangun filsafat ilmu ini yaitu meliputi etika dan estetika.



a.       Etika
Tentang hakikat moral dan keputusannya (kegiatan menilai). Semiawan menerangkan bahwa etika sebagai prinsip atau standar prilaku manusia, yang kadang-kadang disebut dengan moral. Kegiatan ini menilai dibangun berdasarkan toleransi atau ketidakpastian. Makna etika dipakai dalam dua bentuk arti, pertama etika merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian tehadap perbuatan-perbuatan manusia. Kedua, merupakan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan, atau manusia-manusia lain.
b.      Estetika
Semiawan menjelaskan tentang hakikat keindahan didalam seni. Estetika merupakan cabang filsafat yang mengkaji tentang hakikat indah dan buruk. Estetika membantu mengarahkan dalam membentuk suatu presepsi yang baik dari suatu pengetahuan ilmiah agar ia dapat dengan mudah dipahami oleh khalayak luas.[16]


BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu ta onta berarti “yang berada” dan logi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Maka ontologi adalah ilmu pengetahuan atau ajaran tentang keberadaan, term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudofl.
Menurut etimologi, epistimologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu yang sistematis, teori). Secara terminologi, tentang metode dan dasar-dasar pengetahuan, khususnya yang berhubungan dengan batas-batas pengetahuan dan validitas atau sah yang berlakunya pengetahuan itu
Aksiologi membahas tentang masalah nilai. Istilah aksiologi berasal dari kata axio dan logos, axios berarti nilai atau sesuatu yang berharga, dan logos artinya akal, teori. Maka aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan

2.      Saran
Kami menyadari bahwa makalah kami jauh dari kata sempurna, kedepannya kami sebagai penulis akan lebi fokus dan detail dalam menjelaskan tentang makalah diatas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat dipertanggungjawabkan.
Kami berharap para pendengar maupun pembaca yang memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pendengar maupun pembaca.



DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar, Amsal. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta: RajaGrafindo Persada
Sudarminta, J. 2002. Epistemologi Dasar. Yogyakarta: Kanisius
Susanto, A. 2011. Filsafat Ilmu (Suatu Kajian dalam Dimensi Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi). Jakarta: Bumi Aksara.
[17]0ghfugdgo0mjj8iuyyttgghjyo0hjiyo0jo0yjho0yiujo0yijhiui



[1] Hamdani.Filsafat Sains.Pustaka Setia: Bandung, cet. Ke-1, h. 20
[2] Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. RajaGrafindo Persada: Jakarta, cet. Ke-10, h. 5
[3] Ibid, h. 8
[4] Ibid, h. 132
[5] Hamdani. Filsafat Sains. Pustaka Setia: Bandung, cet. Ke-1, h.21
[6] Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. RajaGrafindo Persada: Jakarta, cet. Ke-10, h. 146
[7] Susanto. Filsafat Ilmu. PT Bumi Aksara: Jakarta, cet. Ke-1, h. 94

[8] Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. RajaGrafindo Persada: Jakarta, cet. Ke-10, h. 148
[9] Susanto. Filsafat Ilmu. PT Bumi Aksara: Jakarta, cet. Ke-1, h. 102
[10] Sudarminta, J. Epistemologi Dasar. Kanisus: Yogyakarta, cet. Ke-5, h. 18

[12] Sudarminta, J. Epistemologi Dasar. Kanisus: Yogyakarta, cet. Ke-5, h. 22
[13] Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. RajaGrafindo Persada: Jakarta, cet. Ke-10, h. 152
[14] A. Susanto. Filsafat Ilmu. PT Bumi Aksara: Jakarta, cet. Ke-1, h. 116
[15] Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. RajaGrafindo Persada: Jakarta, cet. Ke-10, h.164
[16] A. Susanto. Filsafat Ilmu. PT Bumi Aksara: Jakarta, cet. Ke-1, h. 118-119


Komentar

Posting Komentar