SEJARAH FILSAFAT YUNANI KUNO


SEJARAH FILSAFAT YUNANI KUNO
Disusun Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Umum
Dosen Pengampu : Muhamad Bisri Mustofa, M.Kom.I
 









Kelompok 5 :
1.     Cindy Pusfita Desprianti             : 1804041034
2.     Dela Aprilia                                 : 1804040021
3.     Rizka Miftahul Janah                 : 1804041145
4.     Siti Dahria                                   : 1804041151

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI METRO
Th. 2018/2019


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tentang Sejarah Filsafat Yunani Kuno
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pendengar agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang Filsafat Umum yang berjudul Sejarah Filsafat Yunani Kuno ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

Metro, 11 Oktober 2018


Kelompok 5


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 4
A.    LatarBelakang................................................................................................ 4
B.     RumusanMasalah........................................................................................... 4
C.     Tujuan............................................................................................................ 4
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................... 5
A.    Sejarah Filsafat Yunani.................................................................................. 5
B.     Zaman Yunani Kuno...................................................................................... 6
C.     Zaman Yunani Klasik.................................................................................... 9
BAB III PENUTUP.................................................................................................. 15
A.    Kesimpulan.................................................................................................... 15
B.     Saran ............................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 16



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Istilah filsafat mulai dikenal pada zaman Yunani Kuno, berasal dari kata philo yang berarti cinta dan sophia yang berarti kebenaran. Untuk mencapai kebenaran, seseorang harus mempunyai pengetahuan. Seseorang yang mempunyai sesuatu, dapat dikatakan telah mencapai kebenaran tentang sesuatu tersebut menurut dirinya sendiri, meskipun apa yang dianggap benar itu belum tentu benar menurut orang lain. Pengetahuan tidak sama dengan ilmu karena ilmu adalah bagian dari pengetahuan.
Filsafat adalah dasar dasar pijakan ilmu. Berbagai disiplin ilmu yang berkembang dewasa ini, pada awalnya adalah filsafat. Ilmu fisika berasal dari filsafat alam (natural philosophy) dan ilmu ekonomi pada mulanya bernama filsafat moral (moral philosophy). Pemikiran filsafat banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan alam. Oleh karena itu, baik di Barat maupun di Timur, terutama di India dan Cina, kecenderungan berpikirnya seputar masalah moral dan agama. Pembagian secara periodisasi filsafat, terutama di Barat dimulai pada zaman klasik, abad pertengahan, zaman modern, dan masa kini. Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi pada saat ini tidaklah berlangsung secara tiba-tiba, tetapi berlangsung secara bertahap. Hal ini karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu, kita harus mengetahui terlebih dahulu sejarag perkembangan pemikiran filsafat sebelumnya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Sejarah Yunani
2.      Zaman Yunani Kuno
3.      Zaman Yunani Klasik

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Sejarah Yunani ?
2.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Zaman Yunani Kuno ?
3.      Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Zaman Yunani Klasik ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Filsafat Yunani
Pada abad ke-6 SM, di Yunani mulai berkembang pemikiran filsafat dan pendekatan yang sama seklai berlainan, yaitu dengan perdebatan dan berpikir. Pada saat itu, untuk mencari jawaban rasional tentang problem alam semesta, tidak lagi menggunakan mitos.[1]
Setelah pada abad ke-6 SM muncul sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos. Mereka menginginkan pertanyaan tentang misteri alam semesta ini jawabannya dapat diterima akal (rasional). Keadaan yang demikian ini sebagai suatu demitologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk menggunakan akal-pikir dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi. Upaya para ahli pikir untuk mengarahkan pada suatu kebebasan berpikir ini menyebabkan banyak orang yang mencoba membuat suatu konsep yang dilandasi kekuatan akal pikir secara murni.[2]
Berikut ini terdapat tiga faktor yang menjadikan filsafat Yunani lahir :
a.       Bangsa Yunani yang kaya akan mitos (dongeng), di mana mitos dianggap sebagai awal dari upaya orang untuk mengetahui atau mengerti. Mitos-mitos tersebut kemudian disusun secara sistematis yang untuk sementara kelihatan rasional sehingga muncul mitos selektif dan rasional, seperti syair karya Homerus, Orpheus, dan lain-lain.

b.      Karya sastra Yunani yang dapat dianggap sebagai pendorong kelahiran filsafat Yunani, karya Homerus mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk pedoman hidup orang-orang Yunani yang di dalamnya mengandung nilai-nilai edukatif.



c.       Pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia (Mesir) di Lembah Sungai Nil. Kemudian, berkat kemampuan dan kecakapannya, ilmu-ilmu tersebut dikembangkan sehingga mereka mempelajarinya tidak didasarkan pada aspek praktisnya saja, tetapi juga aspek teoritis kreatif.
Dengan adanya ketiga faktor tersebut, kedudukan mitos digeser oleh logos (akal), sehingga setelah pergeseran tersebut filsafat lahir.[3]
Zaman Yunani terbagi menjadi dua periode, yaitu periode Yunani Kuno dan periode Yunani Klasik. Periode Yunani Kuno diisi oleh ahli pikir alam (Thales, Anaximandros, Anaximenes, Phitagoras, Xenophanes, dan Democritos). Sedangkan pada periode Yunani Klasik diisi oleh ahli pikir seperti Socrates, Plato, Aristoteles.
1.      Yunani Kuno
Periode Yunani ini lazim disebut periode filsafat alam. Dikatakan demikian, karena pada periode ini ditandai dengan munculnya para ahli pikir alam, di mana arah dan perhatian pemikirannya kepada apa yang diamati disekitarnya. Para pemikir filsafat Yunani yang pertama berasal dari Miletos, sebuah kota perantauan Yunani yang terletak di pesisir Asia Kecil. Mereka kagum terhadap alam yang penuh dengan nuansa dan ritue dan berusaha mencari jawaban atas apa yang ada di belakang semua misteri.[4]

a)      Thales (625-545 SM)
Nama Thales muncul atas penuturan sejarawan Herodotus pada abad ke-5 SM . Thales adalah orang yang berasal dari Miletus dan ia salah satu dari tujuh orang bijaksana (Seven Wise Men of Greece). Aristoteles memberikan gelar The Father of Philosophy, karena dialah orang yang mula-mula berfilsafat dan juga menjadi penasihat teknis ke-12 kota Lonia.


Gelar yang didapatkan oleh Thales juga diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang amat mendasar, yang jarang diperhatikan orang, juga orang zaman sekarang: Apa sebenarnya bahan alam semesta ini? Pertanyaan yang amat mendasar. Terlepas dari apapun jawabannya, pertanyaan ini mengangkat namanya filosof pertama.[5]

            Thales memberikan jawaban bahwa segala sesuatu berasal dari air, ia juga menyatakan bahwa bumi ini terapung di atas air.[6] Thales mengembangkan filsafat alam kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat dasar, dan struktur komposisi alam alam semesta. Ia juga mengembangkan astronomi dan matematika dengan mengemukakan pendapat bahwa bulan bersinar karena memantulkan cahaya matahari, menghitung terjadinya gerhana matahari, dan bahwa kedua sudut alas dari suatu segi tiga sama kaki sama besarnya. Dengan demikian, Thales merupakan ahli matematika yang pertama dan juga sebagai the father of deductive reasoning (bapak penalaran deduktif).[7]

b)      Anaximandros/Anaximander (640-546 SM)
Ia adalah orang pertama yang mengarang suatu traktat dalam kesusastraan Yunani, dan berjasa dalam bidang astronomi, geografi. Pemikirannya, dalam memberikan pendapat tentang arche (asas pertama alam semesta), ia tidak menunjuk pada salah satu unsur yang dapat diamati indera, tetapi ia menunjuk dan memilih pada sesuatu yang tidak dapat diamati indera, yaitu to apeiron sebagai sesuatu yang tak terbatas.[8]


Jika air adalah asas pertama yang menyusun semesta, maka air harus terdapat di mana-mana. Air yang terbatas dan apapun yang terbatas tak bisa menjadi penyusun segala sesuatu, dan karenanya pastilah yang tak terbatas (to apeiron) yang menyusun segala sesuatu. Yang tak terbatas adalah suatu hal yang dibayangkan Anaximandros sebagai sesuatu yang tidak memiliki sifat-sifat benda yang dapat dikenali manusia.[9]

c)      Anaximenes
Begitulah jawaban Anaximander, namun jawaban ini disanggah oleh Anaximenes “Tak mungkin yang tak terbatas (to apeiron) menjadi asal muasal itu. Bukankah udara meliputi seluruh jagat raya? Bukankah udara yang menyebabkan manusia hidup? Seperti hal nya jiwa manusia yang berbentuk hawa yang dengannya seluruh organ manusia tersatukan, alam semesta pun berasal dan dipersatukan oleh udara. Menurut Anaximenes, pada mulanya adalah udara, kemudian ada pemadatan dan pengenceran. Udara yang memadat menjadikan angin, air, tanah, dan batu.[10]

d)     Pythagoras
Mengenai riwayat hidupnya, ia dilahirkan di Pulau Samos, Ionia. Tanggal dan tahun tidak diketahui secara pasti. Ia juga tidak meninggalkan tulisan-tulisan sehingga apa yang diketahui tentang Pythagoras diperlukan kesaksian-kesaksian.[11]
Menurut Pythagoras, semuanya berasal dari bilangan. Pythagoras mendasarkan jawaban ini pada pengamatannya pada musik. Bilangan-bilangan adalah pengukur keteraturan itu, artinya tanpa ada bilangan-bilangan keteraturan tidak akan terwujud. Pythagoras merupakan salah satu tokoh terpenting karena keyakinannya terhadap bilangan-bilangan atau matematika.[12]
e)      Xenophanes (570 - ? SM)
Ia lahir di Xolophon, Asia Kecil. Namanya menjadi terkenal karena untuk pertama kali melontarkan anggapan bahwa adanya konflik antara pemikiran filsafat (rasio) dengan pemikiran mitos.
Pendapatnya yang termuat dalam kritik terhadap Homerus dan Herodotus, ia membantah adanya antropomorfisme Tuhan-Tuhan, yaitu Tuhan digambarklan sebagai (seakan-akan) manusia. Karena manusia selalu mempunyai kecenderungan berpikir, Tuhan pun seperti manusia yang bersuara, berpakaian, dan lain-lainnya. Ia juga membantah bahwa Tuhan bersifat kekal dan tidak mempunyai permulaan. Ia juga menolak anggapan bahwa Tuhan mempunyai jumlah yang banyak dan menekan atas keesaan Tuhan. Kritik ini ditujukan kepada anggapan-anggapan lama yang berdasar pada mitologi.[13]

2.      Yunani Klasik
Zaman yunani klasik dipandang sebagai zaman keemasan filsafat karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu karena Yunani tidak lagi mempercayai mitos-mitos.[14]Aliran yang mengawali periode Yunani Klasik adalah Sofisme. Penamaan aliran Sofisme ini berasal dari kata sophos yang artinya cerdik pandai. [15]
Ada 3 faktor yang mendorong timbulnya kaum sofis, yaitu sebagai berikut :
1.      Perkembangan secara pesat kota Athena dalam bidang politik dan ekonomi.
2.      Setelah kota Athena mengalami keramaian penduduknya yang bertempat tinggal, maka kebutuhan dalam bidang pendidikan tidak terelakkan lagi. Kota Athena sebagai pusat politik sehingga peranan pendidikan sangat penting untuk mendidik kaum mudanya.pendidikan yang diupayakan adalah matematika, astronomi, bahasa yang penting untuk kaum muda dalam ketrampilan berdebat dan peraturan politik.
3.      Orang-orang Yunani banyak mengenal berbagai kebudayaan, dan sekaligus terjadi akulturasi kebudayaan. Sehingga dengan terbukanya bangsa yunani terhadap budaya luarakan membuat orang-orang Yunani menjadi dinamis dan berkembang[16]
Pemikiran Filsafat  Yunani Klasik dipelopori oleh :
1.      Socrates
Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan. Mengguncangkan keyakinan agama. Maka dari itu, Ia meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif; ada kebenaran yang umum yang dapat dipegang oleh semua orang.[17]
Bukti adanya kesepakatan umum itu, pengertian umum itu, definisi itu Ialah ketika kita memesan kursi pada tukang kursi. Kita cukup mengatakan agar tukang kursi membuat kursi untuk kita, dengan tidak usah mengatakan “buatkan kursi yang ada tempat duduk dan sandarannya” mengapa tidak usah? Karena tukang kursi itu telah mengetahui, karena merupakan kebenaran umum bahwa kursi tentulah ada tempat duduk dan sandarannya. Yang perlu ditulis dalam pesanan kursi itu adalah ciri-ciri lain yang tidak merupakan kesepakatan umum. Harus kita sebutkan agar dibuatkan kursi bahan kayu jati, dan sifat khusu lainnya yang kita kehendaki.Ciri umum itu disebut ciri esensi dan semua ciri khusus itu disebut ciri aksidensi. Definisi ialah penyebutan semua ciri esensi suatu objek dengan menyisihkan semua ciri aksidensinya.
Socrates dengan pemikiran filsafat nya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan, yaitu dengan menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah yang keduanya tidak dapat dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.[18]




2.      Plato
Plato lahir di Athena dengan nama asli Aristocles, Ia belajar filsafat dari Socrates, Phytagoras, Heracleitos dan Elia., aka tetapi ajaranya yang paling besar pengaruhnya adalah dari nama Ariston dan ibunya bernama Periktione.[19]
Plato salah seorang murid Socrates, memperkuat pendapat guru itu. Menurut Plato kebenaran umum (definisi) itu bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif seperti pada Socrates; pengertian umum itu sudah di alam idea. Definisipada Socrates dapat saja diartikan tidak memiliki realitas. Nah, menurut Plato esensi itu merupakan realitas. Realitasnya di alam Idea itu.[20]
Sebagai titik tolak pemikiran filsafatnya, ia mencoba menyelesaikan permasalahan lama: Mana yang benar yang berubah-ubah (Heracleitos) atau yang tetap (Parmenides). Mana yang benar antara pengetahuan lewat indra atau pengetahuan yang lewat akal. Sebagai contoh, terdapat banyak segitiga yang bentuknya berlainan menurut pengetahuan indera atau pengetahuan pengalaman, tetapi dalam ide atau pikiran bentuk segitiga itu hanya satu dan tetap.[21]
Sebagai penyelesaian persoalan yang dihadapi Plato tersebut, Ia menerangkan bahwa manusia itu sesungguhnya berada dalam dua dunia, yaitu dunia pengalaman yang bersifat tidak tetap, bermacam-macam dan berubah serta dunia ide yang bersifat tetap, hanya satu macam dan tidak berubah. Dunia pengalaman merupakan bayang-bayang dari dunia ide, sedangkan dunia ide merupakan dunia yang sesungguhnya, yaitu dunia realitas. Dunia inilah yang menjadi model dunia pengalaman. [22]






3.      Aristoteles
Ia dilahirkan di Stageria, Yunani Utara pada tahun 384 SM. Ayahnya seorang dokter pribadi di raja Macedonia Amyntas. Karena hidupnya di lingkungna istana, ia mewarisi keahliannya dalam pengetahuan empiris dari ayahnya. Pada usia 17 tahun ia dikirim ke Athena untuk belajar di Akademia Plato selama kira-kira 20ntahun hingga Plato meninggal. Beberapa lama ia menjadi pengajar di Akademia Plato untuk mengajar logika dan retorika.
Setelah Plato meninggal dunia, Aristoteles bersama rekannya Xenokrates meninggalkan Athena karena ia tidak setuju dengan pendapat pengganti Plato di Akademia tentang filsafat. Tiba di Assos, Aristoteles dan rekannya mengajar di sekolas Assos. Disini Aristoteles menikah dengan Pythias. Pada tahun 345 M kota Assos diserang oleh tentara Parsi, rajanya (rekan Aristoteles) dibunuh, kemudian Aristoteles dengan kawan-kawannya melarikan diri ke Mytilene di pulau Lesbos tidak jauh dari Assos.
Tahun 342 SM Aristoteles diundang raja Philippos dari Macedonia untuk mendidik anaknya Alexander. Dengan bantuan raja Aristoteles mendirikan sekolah Lykeion.[23]
Karya-karya Aristoteles berjumlah delapan pokok bahasan sebagai berikut :
·         Logika
·         Filsafat Alam
·         Psikologis
·         Biologi
·         Metafisika
·         Etika
·         Politik dan Ekonomi
·         Retorika



4.      Filsafat Hellenisme
Filsafat yunani klasik mencapai puncaknya dengan munculnya Aristoteles. Setelah Aristoteles meninggal dunia, pemikiran filsafat yunani merosot. Lima abad sepeninggal Aristoteles terjadi kekosongan sehingga tidak ada ahli pikir yang menghasilkan buah pemikiran filsafatnya seperti Plato atau Aristoteles, sampai munculnya filosof Plotinus (204 – 270).
Lima abad dari kekosongan ini di atas diisi oleh aliran-aliran besar seperti Epikurisme, Stoaisme, Skeptisisme, dan Neoplatonisme).
Filsafat Hellenisme ini dimulai pada pemerintahan Alexander Agung (356 – 23 SM) atau Iskandar Zulkarnain Raja Macedonia. Pada zaman ini terjadi pergeseran pemikiran filsafat, dari filsafat teoretis menjadi filsafat praktis.[24]


1.    Filsuf-filsuf Elea
A.    Perminides
Ia lahir pada tahun 540 SM, tetapi kapan meninggalnya tidak jelas. Ia terkenal sebagai seorang yang besar, ia ahli politik dan pernah memangku jabatan pemerintah. Tetapi bukan karena itu ia terkenal namanya, ia terkenal sebagai ahli pikir yang melebihi siapa saja pada masanya. Filsafatnya adalah “yang realitas dalam alam ini hanya satu, tidak bergerak,  dan tidak berubah”. Dasar pemikirannya : yang ada itu ada, mustahil tidak ada. Perubahan itu berpindah dari ada menjadi tidak ada, itu mustahil, sebagaimana mustahilnya yang tidak ada menjadi ada.[25]






B.     Zeno
Zeno adalah murid Paraminides, ia berusaha untuk membuktikan kebenaran ajaran gurunya, bahwa gerak itu  tidak ada. Gerak hanyalah tipuan belaka.
Ia adalah seorang politikus mahir yang mengaku dirinya sebagai dewa. Dia adalah penganut paham cara pemerintahan yang demokratis, akan tetapi, pada karirnya ia digulinginkan oleh kaum aristokrat.
Filsafatnya mengatakan bahwa substansi alam itu terdiri dari 4 elemen yaitu tanah, udara, api, dan air. [26]

2.    Filsuf-filsuf Pluralis
A. Anaxagoras (500-428 SM)
             Anaxagoras lahir di Lazomonal, lonia. Ajaran filsafatnya mengatakan bahwa timbul dan hilang itu ada. Isi alam ini tidak bertambah dan tidak juga berkurang. Ia selama-lamanya. Timbul dan hilang itu hanyalah barcampuran dari anasir-anasir asal, yang jumlahnya tidak terhingga. Percampuran dan perpisahan anasir-anasir asal tersebut digerakan oleh kodrat dari luar yang dinamakan Nus. Nus itulah yang membentuk alam ini.[27]

3.    Filsuf-filsuf Atomis
Filsafat atomis ini menurut garis besarnya berasal dari Leukippos, dan dikembangakn oleh Demokritos. Kedua filsuf atomis tersebut juga berusaha memecahkan masalah yang diajukan oleh filsuf-filsuf Elea. Mereka berpendapat bahwa realitas seluruhnya itu bukan satu, melainkan tersusun dari banyak unsur dan unsur-unsur tersebut tidak dapat dibagi-bagi. Unsur-unsur tersebut dinamakan atom, yang diambil dari kata atomos, a = tidak dan tomos = terbagi. Atom merupakan bagian yang terkecil, sehingga tidak terlihat oleh mata. Bentuknya berbeda-beda dan tidak mempunyai kualitas.[28]

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pada abad ke-6 SM, di Yunani mulai berkembang pemikiran filsafat dan pendekatan yang sama seklai berlainan, yaitu dengan perdebatan dan berpikir. Pada saat itu, untuk mencari jawaban rasional tentang problem alam semesta, tidak lagi menggunakan mitos.
Zaman Yunani terbagi menjadi dua periode, yaitu periode Yunani Kuno dan periode Yunani Klasik. Periode Yunani Kuno diisi oleh ahli pikir alam (Thales, Anaximandros, Anaximenes, Phitagoras, Xenophanes, dan Democritos). Sedangkan pada periode Yunani Klasik diisi oleh ahli pikir seperti Socrates, Plato, Aristoteles.

B.     Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Banyak sisi-sisi  kekurangan yang memerlukan perbaikan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka segala kritik dan saran demi baiknya penyusunan makalah ini sangat diharapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.



DAFTAR PUSTAKA

Q-Anees dan Hambali Julia Radea. 2003. Filsafat Untuk Umum. Jakarta: Prenada Media.

Hamdani. 2011. Filsafat Sains. Bandung: CV Pustaka Setia

Tafsir Ahmad. 2012. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Achmadi Asmoro. 2010. Filsafat Umum. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Praja Juhaya. 2010. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Prenada Media Group


[1] Hamdani. Filsafat Sains. (Bandung: CV PUSTAKA SETIA). 2011. Cet. Ke-1. Hlm. 36
[2]Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum. (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada). 2010. Cet. Ke-11. Hlm. 31
[3]Ibid,. hlm. 32
[4]Ibid,. hlm. 33
[5] Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya). 2012. Cet. Ke-19. Hlm. 48
[6]Q-Anees, Bambang dan Radea Juli A. Hambali. Filsafat Untuk Umum. (Jakarta: Kencana). 2003. Cet. Ke-1. Hlm. 101
[7] Achmadi, Asmoro. Ibid, hlm. 33
[8]Ibid,. hlm. 34
[9] Q-Anees, Bambang dan Radea Juli A. Hambali. Ibid, hlm. 102
[10]Ibid,. Hlm. 103
[11] Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum. (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada). 2010. Cet. Ke-11. Hlm. 35
[12]Q-Anees, Bambang dan Radea Juli A. Hambali. Op.cit. hlm. 104-105
[13]Achmadi, Asmoro.Op.cit,. hlm. 37
[14] Afifuddin. Filsafat Sains. (Bandung: PT. Pustaka Setia). 2011. Cet. Ke-1. Hlm. 36
[15] Achmadi, Asmoro.Op.cit,. hlm. 45
[16] Achmadi, Asmoro.Op.cit,. hlm. 47
[17]Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya). 2012. Cet. Ke-19. Hlm. 55
[18] Tafsir, Ahmad. Ibid hlm. 56
[19] Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum. (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada). 2010. Cet. Ke-11. Hlm. 51
[20] Tafsir, Ahmad. Ibid hlm. 57
[21] Achmadi, Asmoro. Ibid hlm. 51
[22] Achmadi, Asmoro, ibid. Hlm. 52
[23]. Achmadi, Asmoro, ibid. Hlm. 54-56
[24] Achmadi, Asmoro, ibid. Hlm. 60
[25]Praja, Juhaya. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. (Jakarta: Pernada Media Group). 2010. Cet. Ke-4. Hlm. 82
[26] Praja, Juhaya. Ibid. Hlm. 83
[27] Praja, Juhaya. Ibid. Hlm. 84
[28] Praja, Juhaya. Ibid. Hlm. 84


Komentar