SEJARAH FILSAFAT YUNANI KUNO
SEJARAH
FILSAFAT YUNANI KUNO
Disusun Untuk
memenuhi Tugas Mata Kuliah Filsafat Umum
Dosen Pengampu :
Muhamad Bisri Mustofa, M.Kom.I
![]() |
Kelompok 5 :
1.
Cindy
Pusfita Desprianti : 1804041034
2.
Dela
Aprilia : 1804040021
3.
Rizka
Miftahul Janah :
1804041145
4.
Siti
Dahria :
1804041151
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI METRO
Th. 2018/2019
KATA
PENGANTAR
Segala
puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas
kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada
kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini tentang Sejarah Filsafat Yunani Kuno
Makalah
ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai
pihak sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Terlepas dari semua
itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi
susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pendengar agar kami dapat
memperbaiki makalah ini.
Akhir
kata kami berharap semoga makalah tentang Filsafat
Umum yang berjudul Sejarah Filsafat
Yunani Kuno ini bisa bermanfaat bagi kita semua.
Metro, 11 Oktober 2018
Kelompok 5
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL................................................................................................ i
KATA
PENGANTAR.............................................................................................. ii
DAFTAR
ISI............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 4
A.
LatarBelakang................................................................................................ 4
B.
RumusanMasalah........................................................................................... 4
C.
Tujuan............................................................................................................ 4
BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................... 5
A.
Sejarah Filsafat Yunani.................................................................................. 5
B.
Zaman Yunani Kuno...................................................................................... 6
C.
Zaman Yunani Klasik.................................................................................... 9
BAB III PENUTUP.................................................................................................. 15
A.
Kesimpulan.................................................................................................... 15
B.
Saran
............................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 16
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah filsafat mulai dikenal pada zaman Yunani Kuno,
berasal dari kata philo yang berarti
cinta dan sophia yang berarti
kebenaran. Untuk mencapai kebenaran, seseorang harus mempunyai pengetahuan.
Seseorang yang mempunyai sesuatu, dapat dikatakan telah mencapai kebenaran
tentang sesuatu tersebut menurut dirinya sendiri, meskipun apa yang dianggap
benar itu belum tentu benar menurut orang lain. Pengetahuan tidak sama dengan
ilmu karena ilmu adalah bagian dari pengetahuan.
Filsafat adalah dasar dasar pijakan ilmu. Berbagai
disiplin ilmu yang berkembang dewasa ini, pada awalnya adalah filsafat. Ilmu
fisika berasal dari filsafat alam (natural
philosophy) dan ilmu ekonomi pada mulanya bernama filsafat moral (moral philosophy). Pemikiran filsafat
banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan alam. Oleh karena itu, baik di Barat
maupun di Timur, terutama di India dan Cina, kecenderungan berpikirnya seputar
masalah moral dan agama. Pembagian secara periodisasi filsafat, terutama di
Barat dimulai pada zaman klasik, abad pertengahan, zaman modern, dan masa kini.
Jadi, perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi pada saat ini tidaklah
berlangsung secara tiba-tiba, tetapi berlangsung secara bertahap. Hal ini
karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu, kita harus mengetahui terlebih
dahulu sejarag perkembangan pemikiran filsafat sebelumnya.
B. Rumusan Masalah
1. Sejarah
Yunani
2. Zaman
Yunani Kuno
3. Zaman
Yunani Klasik
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan Sejarah Yunani ?
2. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan Zaman Yunani Kuno ?
3. Untuk
mengetahui apa yang dimaksud dengan Zaman Yunani Klasik ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Filsafat Yunani
Pada abad ke-6 SM, di Yunani mulai berkembang
pemikiran filsafat dan pendekatan yang sama seklai berlainan, yaitu dengan
perdebatan dan berpikir. Pada saat itu, untuk mencari jawaban rasional tentang
problem alam semesta, tidak lagi menggunakan mitos.[1]
Setelah pada abad ke-6 SM muncul sejumlah ahli pikir
yang menentang adanya mitos. Mereka menginginkan pertanyaan tentang misteri
alam semesta ini jawabannya dapat diterima akal (rasional). Keadaan yang
demikian ini sebagai suatu demitologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran
untuk menggunakan akal-pikir dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi.
Upaya para ahli pikir untuk mengarahkan pada suatu kebebasan berpikir ini
menyebabkan banyak orang yang mencoba membuat suatu konsep yang dilandasi
kekuatan akal pikir secara murni.[2]
Berikut ini terdapat tiga faktor yang menjadikan
filsafat Yunani lahir :
a. Bangsa
Yunani yang kaya akan mitos (dongeng), di mana mitos dianggap sebagai awal dari
upaya orang untuk mengetahui atau mengerti. Mitos-mitos tersebut kemudian
disusun secara sistematis yang untuk sementara kelihatan rasional sehingga
muncul mitos selektif dan rasional, seperti syair karya Homerus, Orpheus, dan
lain-lain.
b. Karya
sastra Yunani yang dapat dianggap sebagai pendorong kelahiran filsafat Yunani,
karya Homerus mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk pedoman hidup
orang-orang Yunani yang di dalamnya mengandung nilai-nilai edukatif.
c. Pengaruh
ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia (Mesir) di Lembah Sungai Nil.
Kemudian, berkat kemampuan dan kecakapannya, ilmu-ilmu tersebut dikembangkan
sehingga mereka mempelajarinya tidak didasarkan pada aspek praktisnya saja,
tetapi juga aspek teoritis kreatif.
Dengan adanya ketiga faktor tersebut, kedudukan
mitos digeser oleh logos (akal),
sehingga setelah pergeseran tersebut filsafat lahir.[3]
Zaman Yunani terbagi menjadi dua periode, yaitu
periode Yunani Kuno dan periode Yunani Klasik. Periode Yunani Kuno diisi oleh
ahli pikir alam (Thales, Anaximandros, Anaximenes, Phitagoras, Xenophanes, dan
Democritos). Sedangkan pada periode Yunani Klasik diisi oleh ahli pikir seperti
Socrates, Plato, Aristoteles.
1.
Yunani
Kuno
Periode Yunani ini lazim disebut
periode filsafat alam. Dikatakan demikian, karena pada periode ini ditandai
dengan munculnya para ahli pikir alam, di mana arah dan perhatian pemikirannya
kepada apa yang diamati disekitarnya. Para pemikir filsafat Yunani yang pertama
berasal dari Miletos, sebuah kota perantauan Yunani yang terletak di pesisir
Asia Kecil. Mereka kagum terhadap alam yang penuh dengan nuansa dan ritue dan
berusaha mencari jawaban atas apa yang ada di belakang semua misteri.[4]
a) Thales
(625-545 SM)
Nama Thales muncul atas penuturan
sejarawan Herodotus pada abad ke-5 SM . Thales adalah orang yang berasal dari
Miletus dan ia salah satu dari tujuh orang bijaksana (Seven Wise Men of Greece). Aristoteles memberikan gelar The Father of Philosophy, karena dialah
orang yang mula-mula berfilsafat dan juga menjadi penasihat teknis ke-12 kota
Lonia.
Gelar yang
didapatkan oleh Thales juga diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang amat
mendasar, yang jarang diperhatikan orang, juga orang zaman sekarang: Apa
sebenarnya bahan alam semesta ini? Pertanyaan yang amat mendasar. Terlepas dari
apapun jawabannya, pertanyaan ini mengangkat namanya filosof pertama.[5]
Thales
memberikan jawaban bahwa segala sesuatu berasal dari air, ia juga menyatakan
bahwa bumi ini terapung di atas air.[6]
Thales mengembangkan filsafat alam kosmologi yang mempertanyakan asal mula, sifat
dasar, dan struktur komposisi alam alam semesta. Ia juga mengembangkan
astronomi dan matematika dengan mengemukakan pendapat bahwa bulan bersinar
karena memantulkan cahaya matahari, menghitung terjadinya gerhana matahari, dan
bahwa kedua sudut alas dari suatu segi tiga sama kaki sama besarnya. Dengan
demikian, Thales merupakan ahli matematika yang pertama dan juga sebagai the father of deductive reasoning (bapak
penalaran deduktif).[7]
b) Anaximandros/Anaximander
(640-546 SM)
Ia adalah orang
pertama yang mengarang suatu traktat dalam kesusastraan Yunani, dan berjasa
dalam bidang astronomi, geografi. Pemikirannya, dalam memberikan pendapat
tentang arche (asas pertama alam
semesta), ia tidak menunjuk pada salah satu unsur yang dapat diamati indera,
tetapi ia menunjuk dan memilih pada sesuatu yang tidak dapat diamati indera,
yaitu to apeiron sebagai sesuatu yang
tak terbatas.[8]
Jika air adalah
asas pertama yang menyusun semesta, maka air harus terdapat di mana-mana. Air
yang terbatas dan apapun yang terbatas tak bisa menjadi penyusun segala
sesuatu, dan karenanya pastilah yang tak terbatas (to apeiron) yang menyusun segala sesuatu. Yang tak terbatas adalah
suatu hal yang dibayangkan Anaximandros sebagai sesuatu yang tidak memiliki
sifat-sifat benda yang dapat dikenali manusia.[9]
c) Anaximenes
Begitulah
jawaban Anaximander, namun jawaban ini disanggah oleh Anaximenes “Tak mungkin
yang tak terbatas (to apeiron)
menjadi asal muasal itu. Bukankah udara meliputi seluruh jagat raya? Bukankah
udara yang menyebabkan manusia hidup? Seperti hal nya jiwa manusia yang
berbentuk hawa yang dengannya seluruh organ manusia tersatukan, alam semesta
pun berasal dan dipersatukan oleh udara. Menurut Anaximenes, pada mulanya
adalah udara, kemudian ada pemadatan dan pengenceran. Udara yang memadat
menjadikan angin, air, tanah, dan batu.[10]
d) Pythagoras
Mengenai riwayat hidupnya, ia
dilahirkan di Pulau Samos, Ionia. Tanggal dan tahun tidak diketahui secara
pasti. Ia juga tidak meninggalkan tulisan-tulisan sehingga apa yang diketahui tentang
Pythagoras diperlukan kesaksian-kesaksian.[11]
Menurut Pythagoras, semuanya
berasal dari bilangan. Pythagoras mendasarkan jawaban ini pada pengamatannya
pada musik. Bilangan-bilangan adalah pengukur keteraturan itu, artinya tanpa
ada bilangan-bilangan keteraturan tidak akan terwujud. Pythagoras merupakan
salah satu tokoh terpenting karena keyakinannya terhadap bilangan-bilangan atau
matematika.[12]
e) Xenophanes
(570 - ? SM)
Ia lahir di
Xolophon, Asia Kecil. Namanya menjadi terkenal karena untuk pertama kali
melontarkan anggapan bahwa adanya konflik antara pemikiran filsafat (rasio)
dengan pemikiran mitos.
Pendapatnya yang
termuat dalam kritik terhadap Homerus dan Herodotus, ia membantah adanya
antropomorfisme Tuhan-Tuhan, yaitu Tuhan digambarklan sebagai (seakan-akan)
manusia. Karena manusia selalu mempunyai kecenderungan berpikir, Tuhan pun
seperti manusia yang bersuara, berpakaian, dan lain-lainnya. Ia juga membantah
bahwa Tuhan bersifat kekal dan tidak mempunyai permulaan. Ia juga menolak
anggapan bahwa Tuhan mempunyai jumlah yang banyak dan menekan atas keesaan
Tuhan. Kritik ini ditujukan kepada anggapan-anggapan lama yang berdasar pada
mitologi.[13]
2.
Yunani
Klasik
Zaman yunani klasik dipandang
sebagai zaman keemasan filsafat karena pada masa ini orang memiliki kebebasan
untuk mengungkapkan ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai
gudang ilmu karena Yunani tidak lagi mempercayai mitos-mitos.[14]Aliran
yang mengawali periode Yunani Klasik adalah Sofisme. Penamaan aliran Sofisme
ini berasal dari kata sophos yang
artinya cerdik pandai. [15]
Ada 3 faktor yang mendorong
timbulnya kaum sofis, yaitu sebagai berikut :
1. Perkembangan
secara pesat kota Athena dalam bidang politik dan ekonomi.
2. Setelah
kota Athena mengalami keramaian penduduknya yang bertempat tinggal, maka
kebutuhan dalam bidang pendidikan tidak terelakkan lagi. Kota Athena sebagai
pusat politik sehingga peranan pendidikan sangat penting untuk mendidik kaum
mudanya.pendidikan yang diupayakan adalah matematika, astronomi, bahasa yang
penting untuk kaum muda dalam ketrampilan berdebat dan peraturan politik.
3. Orang-orang
Yunani banyak mengenal berbagai kebudayaan, dan sekaligus terjadi akulturasi
kebudayaan. Sehingga dengan terbukanya bangsa yunani terhadap budaya luarakan
membuat orang-orang Yunani menjadi dinamis dan berkembang[16]
Pemikiran
Filsafat Yunani Klasik dipelopori oleh :
1. Socrates
Ajaran bahwa
semua kebenaran itu relatif telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah
mapan. Mengguncangkan keyakinan agama. Maka dari itu, Ia meyakinkan orang
Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif; ada kebenaran yang umum yang
dapat dipegang oleh semua orang.[17]
Bukti adanya
kesepakatan umum itu, pengertian umum itu, definisi itu Ialah ketika kita
memesan kursi pada tukang kursi. Kita cukup mengatakan agar tukang kursi
membuat kursi untuk kita, dengan
tidak usah mengatakan “buatkan kursi yang ada tempat duduk dan sandarannya”
mengapa tidak usah? Karena tukang kursi itu telah mengetahui, karena merupakan
kebenaran umum bahwa kursi tentulah ada tempat duduk dan sandarannya. Yang
perlu ditulis dalam pesanan kursi itu adalah ciri-ciri lain yang tidak
merupakan kesepakatan umum. Harus kita sebutkan agar dibuatkan kursi bahan kayu
jati, dan sifat khusu lainnya yang kita kehendaki.Ciri umum itu disebut ciri esensi dan semua ciri khusus itu disebut
ciri aksidensi. Definisi ialah
penyebutan semua ciri esensi suatu objek dengan menyisihkan semua ciri
aksidensinya.
Socrates dengan
pemikiran filsafat nya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan, yaitu
dengan menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah yang keduanya tidak dapat
dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang
dihasilkan.[18]
2. Plato
Plato lahir di Athena dengan nama asli Aristocles,
Ia belajar filsafat dari Socrates, Phytagoras, Heracleitos dan Elia., aka
tetapi ajaranya yang paling besar pengaruhnya adalah dari nama Ariston dan
ibunya bernama Periktione.[19]
Plato salah seorang murid Socrates, memperkuat
pendapat guru itu. Menurut Plato kebenaran umum (definisi) itu bukan dibuat
dengan cara dialog yang induktif seperti pada Socrates; pengertian umum itu
sudah di alam idea. Definisipada Socrates dapat saja diartikan tidak memiliki
realitas. Nah, menurut Plato esensi itu merupakan realitas. Realitasnya di alam
Idea itu.[20]
Sebagai titik tolak pemikiran filsafatnya, ia
mencoba menyelesaikan permasalahan lama: Mana yang benar yang berubah-ubah
(Heracleitos) atau yang tetap (Parmenides). Mana yang benar antara pengetahuan
lewat indra atau pengetahuan yang lewat akal. Sebagai contoh, terdapat banyak
segitiga yang bentuknya berlainan menurut pengetahuan indera atau pengetahuan
pengalaman, tetapi dalam ide atau pikiran bentuk segitiga itu hanya satu dan
tetap.[21]
Sebagai penyelesaian persoalan yang dihadapi Plato
tersebut, Ia menerangkan bahwa manusia itu sesungguhnya berada dalam dua dunia,
yaitu dunia pengalaman yang bersifat tidak tetap, bermacam-macam dan berubah
serta dunia ide yang bersifat tetap, hanya satu macam dan tidak berubah. Dunia
pengalaman merupakan bayang-bayang dari dunia ide, sedangkan dunia ide
merupakan dunia yang sesungguhnya, yaitu dunia realitas. Dunia inilah yang
menjadi model dunia pengalaman. [22]
3. Aristoteles
Ia dilahirkan di
Stageria, Yunani Utara pada tahun 384 SM. Ayahnya seorang dokter pribadi di
raja Macedonia Amyntas. Karena hidupnya di lingkungna istana, ia mewarisi
keahliannya dalam pengetahuan empiris dari ayahnya. Pada usia 17 tahun ia
dikirim ke Athena untuk belajar di Akademia Plato selama kira-kira 20ntahun
hingga Plato meninggal. Beberapa lama ia menjadi pengajar di Akademia Plato
untuk mengajar logika dan retorika.
Setelah Plato
meninggal dunia, Aristoteles bersama rekannya Xenokrates meninggalkan Athena
karena ia tidak setuju dengan pendapat pengganti Plato di Akademia tentang
filsafat. Tiba di Assos, Aristoteles dan rekannya mengajar di sekolas Assos.
Disini Aristoteles menikah dengan Pythias. Pada tahun 345 M kota Assos diserang
oleh tentara Parsi, rajanya (rekan Aristoteles) dibunuh, kemudian Aristoteles
dengan kawan-kawannya melarikan diri ke Mytilene di pulau Lesbos tidak jauh
dari Assos.
Tahun 342 SM
Aristoteles diundang raja Philippos dari Macedonia untuk mendidik anaknya
Alexander. Dengan bantuan raja Aristoteles mendirikan sekolah Lykeion.[23]
Karya-karya
Aristoteles berjumlah delapan pokok bahasan sebagai berikut :
·
Logika
·
Filsafat Alam
·
Psikologis
·
Biologi
·
Metafisika
·
Etika
·
Politik dan Ekonomi
·
Retorika
4. Filsafat
Hellenisme
Filsafat yunani
klasik mencapai puncaknya dengan munculnya Aristoteles. Setelah Aristoteles
meninggal dunia, pemikiran filsafat yunani merosot. Lima abad sepeninggal
Aristoteles terjadi kekosongan sehingga tidak ada ahli pikir yang menghasilkan
buah pemikiran filsafatnya seperti Plato atau Aristoteles, sampai munculnya
filosof Plotinus (204 – 270).
Lima abad dari
kekosongan ini di atas diisi oleh aliran-aliran besar seperti Epikurisme,
Stoaisme, Skeptisisme, dan Neoplatonisme).
Filsafat
Hellenisme ini dimulai pada pemerintahan Alexander Agung (356 – 23 SM) atau
Iskandar Zulkarnain Raja Macedonia. Pada zaman ini terjadi pergeseran pemikiran
filsafat, dari filsafat teoretis menjadi filsafat praktis.[24]
1.
Filsuf-filsuf
Elea
A. Perminides
Ia lahir pada
tahun 540 SM, tetapi kapan meninggalnya tidak jelas. Ia terkenal sebagai
seorang yang besar, ia ahli politik dan pernah memangku jabatan pemerintah.
Tetapi bukan karena itu ia terkenal namanya, ia terkenal sebagai ahli pikir
yang melebihi siapa saja pada masanya. Filsafatnya adalah “yang realitas dalam
alam ini hanya satu, tidak bergerak, dan
tidak berubah”. Dasar pemikirannya : yang ada itu ada, mustahil tidak ada.
Perubahan itu berpindah dari ada menjadi tidak ada, itu mustahil, sebagaimana
mustahilnya yang tidak ada menjadi ada.[25]
B. Zeno
Zeno adalah murid Paraminides, ia berusaha untuk
membuktikan kebenaran ajaran gurunya, bahwa gerak itu tidak ada. Gerak hanyalah tipuan belaka.
Ia adalah seorang politikus mahir yang mengaku
dirinya sebagai dewa. Dia adalah penganut paham cara pemerintahan yang
demokratis, akan tetapi, pada karirnya ia digulinginkan oleh kaum aristokrat.
Filsafatnya mengatakan bahwa substansi alam itu
terdiri dari 4 elemen yaitu tanah, udara, api, dan air. [26]
2.
Filsuf-filsuf
Pluralis
A.
Anaxagoras (500-428 SM)
Anaxagoras lahir di Lazomonal,
lonia. Ajaran filsafatnya mengatakan bahwa timbul dan hilang itu ada. Isi alam
ini tidak bertambah dan tidak juga berkurang. Ia selama-lamanya. Timbul dan
hilang itu hanyalah barcampuran dari anasir-anasir asal, yang jumlahnya tidak
terhingga. Percampuran dan perpisahan anasir-anasir asal tersebut digerakan
oleh kodrat dari luar yang dinamakan Nus. Nus itulah yang membentuk alam ini.[27]
3.
Filsuf-filsuf
Atomis
Filsafat atomis
ini menurut garis besarnya berasal dari Leukippos, dan dikembangakn oleh
Demokritos. Kedua filsuf atomis tersebut juga berusaha memecahkan masalah yang
diajukan oleh filsuf-filsuf Elea. Mereka berpendapat bahwa realitas seluruhnya
itu bukan satu, melainkan tersusun dari banyak unsur dan unsur-unsur tersebut
tidak dapat dibagi-bagi. Unsur-unsur tersebut dinamakan atom, yang diambil dari
kata atomos, a = tidak dan tomos = terbagi. Atom merupakan bagian
yang terkecil, sehingga tidak terlihat oleh mata. Bentuknya berbeda-beda dan
tidak mempunyai kualitas.[28]
BAB
IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada
abad ke-6 SM, di Yunani mulai berkembang pemikiran filsafat dan pendekatan yang
sama seklai berlainan, yaitu dengan perdebatan dan berpikir. Pada saat itu,
untuk mencari jawaban rasional tentang problem alam semesta, tidak lagi
menggunakan mitos.
Zaman Yunani terbagi menjadi dua periode, yaitu
periode Yunani Kuno dan periode Yunani Klasik. Periode Yunani Kuno diisi oleh
ahli pikir alam (Thales, Anaximandros, Anaximenes, Phitagoras, Xenophanes, dan
Democritos). Sedangkan pada periode Yunani Klasik diisi oleh ahli pikir seperti
Socrates, Plato, Aristoteles.
B. Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Banyak sisi-sisi
kekurangan yang memerlukan perbaikan. Sehubungan dengan hal tersebut,
maka segala kritik dan saran demi baiknya penyusunan makalah ini sangat
diharapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
DAFTAR
PUSTAKA
Q-Anees dan Hambali Julia Radea. 2003. Filsafat Untuk Umum. Jakarta: Prenada
Media.
Hamdani. 2011. Filsafat Sains. Bandung: CV Pustaka Setia
Tafsir Ahmad. 2012. Filsafat Umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Achmadi Asmoro. 2010. Filsafat Umum. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Praja Juhaya. 2010. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Prenada Media Group
[1]
Hamdani. Filsafat Sains. (Bandung: CV
PUSTAKA SETIA). 2011. Cet. Ke-1. Hlm. 36
[2]Achmadi,
Asmoro. Filsafat Umum. (Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada). 2010. Cet. Ke-11. Hlm. 31
[3]Ibid,. hlm. 32
[4]Ibid,. hlm. 33
[5]
Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum Akal dan
Hati Sejak Thales sampai Capra. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya). 2012.
Cet. Ke-19. Hlm. 48
[6]Q-Anees,
Bambang dan Radea Juli A. Hambali. Filsafat
Untuk Umum. (Jakarta: Kencana). 2003. Cet. Ke-1. Hlm. 101
[7]
Achmadi, Asmoro. Ibid, hlm. 33
[8]Ibid,. hlm. 34
[9]
Q-Anees, Bambang dan Radea Juli A. Hambali. Ibid,
hlm. 102
[10]Ibid,. Hlm. 103
[11]
Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum.
(Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada). 2010. Cet. Ke-11. Hlm. 35
[12]Q-Anees,
Bambang dan Radea Juli A. Hambali. Op.cit.
hlm. 104-105
[13]Achmadi,
Asmoro.Op.cit,. hlm. 37
[14]
Afifuddin. Filsafat Sains. (Bandung:
PT. Pustaka Setia). 2011. Cet. Ke-1. Hlm. 36
[15]
Achmadi, Asmoro.Op.cit,. hlm. 45
[16]
Achmadi, Asmoro.Op.cit,. hlm. 47
[17]Tafsir,
Ahmad. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak
Thales sampai Capra. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya). 2012. Cet. Ke-19.
Hlm. 55
[18]
Tafsir, Ahmad. Ibid hlm. 56
[19]
Achmadi, Asmoro. Filsafat Umum.
(Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada). 2010. Cet. Ke-11. Hlm. 51
[20]
Tafsir, Ahmad. Ibid hlm. 57
[21]
Achmadi, Asmoro. Ibid hlm. 51
[22]
Achmadi, Asmoro, ibid. Hlm. 52
[23].
Achmadi, Asmoro, ibid. Hlm. 54-56
[24]
Achmadi, Asmoro, ibid. Hlm. 60
[25]Praja,
Juhaya. Aliran-aliran Filsafat dan Etika.
(Jakarta: Pernada Media Group). 2010. Cet. Ke-4. Hlm. 82
[26]
Praja, Juhaya. Ibid. Hlm. 83
[27]
Praja, Juhaya. Ibid. Hlm. 84
[28]
Praja, Juhaya. Ibid. Hlm. 84

Komentar
Posting Komentar